Istri Pengganti (Chapter 2)

“Bodoh kamu, Gia!” desis Deva pelan di sela riuh tepuk tangan para tamu undangan. “Lihat saja. Saya akan buat hidup kamu menderita!”

Gia tetap memaksakan dirinya tersenyum, padahal jantungnya berdebar sangat kencang. Kalau bisa memilih, Gia juga tidak mau menipu Deva seperti ini. Tapi Gia terpaksa melakukannya karena Feya tiba-tiba kabur tepat di hari pernikahannya dengan Deva.

 

Selama resepsi, Deva dan Gia terlihat seperti pasangan pengantin pada umumnya. Mereka tersenyum dan menyambut ramah para tamu undangan yang datang memberikan selamat. Sementara  Darmawan yang berkeliling menyapa para tamu tampak  gugup.

Setelah acara resepsi selesai, Darmawan segera pergi ke ruang VVIP yang disediakan untuk pengantin pria dan wanita. Di sana sudah ada Deva dan Gia yang menunggunya. 

“Deva…” Darmawan tersenyum gugup sambil duduk di sofa di sebelah Gia. “Sa-saya minta maaf—”

“Saya nggak perlu permintaan maaf,” potong Deva sambil menatap tajam Darmawan. “Yang saya perlukan itu penjelasan. Kenapa pengantin wanitanya tiba-tiba berubah menjadi Gia? Pak Darmawan mau menipu saya?!”

Darmawan semakin gugup mendengar suara Deva yang meninggi. 

“Saya tidak bermaksud menipu kamu, Deva. Tapi…”

“Tapi apa?” Deva melirik Gia yang duduk diam dengan kepala tertunduk. “Apa ini bukan penipuan namanya? Walaupun wajah mereka hampir mirip, saya masih bisa mengenali mana Feya dan mana Gia. Bagaimana kalau ada tamu undangan yang juga menyadari itu? Bagaimana kalau nanti mereka membahas soal itu di media sosial dan saya dihujat netizen karena melakukan pernikahan palsu? Pak Darmawan bisa memperbaiki nama baik saya?!”

“Maafkan saya, Deva. Saya tidak berpikir panjang karena panik saat mengetahui Feya menghilang. Jadi…”

“Jadi Pak Darmawan menyuruh Gia menggantikan Feya sebagai penyelesaian masalah?” sambar Deva yang kemudian tersenyum sinis. “Pantas saja bisnis Pak Darmawan hancur. Mengurus masalah sepele kayak gini aja nggak becus!”

Wajah Darmawan memerah dan tangan kanannya mengepal kencang, tapi dia berusaha untuk tidak terpancing. Darmawan memerlukan bantuan Deva demi menyelamatkan perusahaannya. Dia tidak boleh membuat masalah ini semakin besar, atau dia akan kehilangan semuanya.

“Sekali lagi saya minta maaf atas semua kekacauan yang sudah terjadi,” ucap Darmawan. “Saya akan bertanggung jawab atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat. Kamu boleh menghukum saya dengan cara apa pun. Tapi, saya mohon, jangan perbesar masalah ini hingga terdengar ke telinga Mbak Kemala. Saya tidak mau masalah ini membuat penyakitnya semakin parah.”

“Jangan sebut nama Oma!” seru Deva jengkel. “Untung saja Oma nggak bisa datang ke pernikahan saya karena masih harus berobat. Kalau Oma datang dan tahu masalah ini, saya yakin Oma akan langsung membatalkan perjanjian bisnis kalian.”

Darmawan hanya bisa diam mendengar omelan Deva.

“Saya nggak peduli Pak Darmawan mau melakukan apa untuk mempertanggungjawabkan kesalahan Pak Darmawan. Yang pasti, Pak Darmawan harus segera menemukan Feya dan membawanya ke hadapan saya. Atau saya akan menuntut keluarga Pak Darmawan karena sudah melakukan penipuan.”

Darmawan terlihat ragu karena sebenarnya dia sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari Feya dari subuh tadi, tapi sampai saat ini hasilnya masih nihil. Feya tidak juga ditemukan di mana pun. Dia benar-benar menghilang seakan ditelan bumi. 

Namun, demi mengamankan nasib perusahaannya, Darmawan akhirnya mengangguk.

“Baik, Deva,” kata Darmawan. “Saya akan segera mencari Feya sampai ketemu.”

“Satu lagi,” ucap Deva sambil beralih ke Gia. “Saya akan menahan Gia sebagai pengganti istri saya sampai Feya berhasil ditemukan.”

Darmawan langsung bertatapan dengan Gia, dan dia semakin merasa bersalah. Seharusnya dia tidak meminta Gia untuk menggantikan Feya. Seharusnya dia biarkan saja pernikahan itu batal dan perusahaannya bangkrut. Semua kekacauan ini mungkin tidak akan terjadi. 

Namun Gia yang memahami perasaan papinya langsung menggenggam tangan Darmawan. 

“Papi nggak perlu khawatir soal aku,” ucap Gia meyakinkan Darmawan. “Papi cari Feya aja sampai ketemu. Aku khawatir terjadi sesuatu sama dia.”

“Papi janji akan segera menemukan Feya.” Darmawan mengeratkan pegangan tangannya. “Sekali lagi, maafin Papi ya, Sayang. Papi janji akan segera jemput kamu pulang.”

“Iya, Pi.” Gia tersenyum untuk membuat Darmawan berhenti khawatir. “Aku percaya sama Papi.”

Deva yang jengkel melihat drama ayah dan anak di depannya kemudian berdeham cukup kencang. Gia dan Darmawan pun melepaskan pegangan tangan mereka. Lalu keduanya mengalihkan perhatian mereka kembali ke Deva.

“Sebentar lagi asisten pribadi saya akan masuk ke ruangan ini untuk membawa saya dan Gia ke bandara,” kata Deva memberi tahu. “Jadi kalian jangan lupa kalau Gia adalah Feya.”

Darmawan mengangguk paham, namun Gia mengerutkan keningnya. 

“Muka kamu kenapa begitu?” tanya Deva saat menyadari kebingungan di wajah Gia. “Apa kata-kata saya kurang jelas?”

Gia menggeleng. “Aku paham soal itu. Yang aku nggak paham, kita mau ngapain ke bandara? Jemput Oma kamu?”

Kali ini Deva yang menggeleng. “Kita akan pergi honeymoon ke pulau pribadiku di Filipina,” ujarnya.

Gia terpaku mendengar kata-kata Deva sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu. 

Honeymoon?!

 

Di saat yang sama, Feya tengah berada di balkon sebuah apartemen studio di selatan Jakarta. Tangan kirinya menggenggam erat ponselnya yang mati. Sementara matanya merenung menatap  pemandangan langit biru di depannya.

Papi sama Kak Gia lagi apa ya sekarang? Mereka marah nggak ya sama aku? Mereka khawatir nggak ya sama keadaanku?

Saat Feya sedang memikirkan jawaban dari pertanyaannya, pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Feya pun kembali masuk ke dalam apartemen, membiarkan pertanyaannya tidak terjawab.