“Saya terima nikahnya Feya Putri Darmawan binti Darmawan dengan maskawin seperangkat alat salat dan satu set perhiasan senilai 150 juta rupiah dibayar tunai!”
Setelah para saksi menyatakan sah, Radeva Adhikara pun resmi menikahi Feya Putri Darmawan. Namun saat pemuda yang disapa Deva itu melirik wedding veil yang sedikit menutupi wajah pengantin wanita yang duduk di sampingnya, yang dia lihat bukan wajah Feya Putri Darmawan. Melainkan Giani Putri Darmawan.
***
Perusahaan Darmawan hampir mengalami kebangkrutan. Darmawan memerlukan suntikan dana yang sangat besar, atau dia harus memecat ratusan karyawannya dan hidup dalam kemiskinan. Setelah meminta pertolongan ke mana-mana dan selalu ditolak, Darmawan akhirnya menemui orang yang pasti bisa menolongnya. Orang yang menjadi mentornya saat pertama mulai berbisnis, Kemala Adhikara.
“Saya memerlukan bantuan Mbak Kemala demi kelangsungan perusahaan saya,” ucap Darmawan saat dia menghubungi Kemala Adhikara via telepon malam itu. “Saya tidak mau memecat ratusan karyawan saya karena kesalahan yang saya buat. Tidak adil buat mereka.”
Kemala yang merupakan pemilik perusahaan ritel terbesar di Indonesia bernama Adhikara Grup itu diam saja selama Darmawan menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya. Kemala seakan tidak tertarik dengan penawaran kerjasama dari mantan muridnya tersebut. Saat Darmawan terdengar hampir putus asa, Kemala akhirnya mulai bicara.
“Saya akan bantu kamu, Darmawan,” ujar Kemala. “Tapi dengan satu syarat.”
Darmawan yang sangat membutuhkan uang dari Kemala langsung menyanggupi dengan antusias.
“Siap, Mbak. Syarat apa pun yang Mbak minta akan saya lakukan. Yang penting Mbak Kemala bisa membantu saya.”
“Oke. Kamu kenal Deva, kan? Cucu saya yang sekarang memimpin Adhikara Grup?”
“Tentu kenal, Mbak. Siapa yang tidak kenal dengan Radeva Adhikara? Usianya masih di bawah 30 tahun, tapi namanya sudah masuk dalam daftar sepuluh orang terkaya di Indonesia.”
Kemala tertawa. “Iya, anak nakal itu.”
“Apa yang harus saya lakukan dengan Deva, Mbak?”
“Kamu punya dua anak perempuan, betul?”
“Betul, Mbak. Saya punya dua orang putri. Nama mereka Giani dan Feya.”
“Nikahkan salah satu putri kamu dengan Deva.”
Darmawan tercenung. Menikahkan putriku dengan Deva? Apa Deva mau? Meski tidak pernah berhubungan langsung, Darmawan sudah dengar betapa perfeksionis dan tingginya selera pemuda yang satu itu. Darmawan tidak yakin Deva tertarik dengan kedua putrinya walau mereka cantik dan berpendidikan.
“Kalau Deva menolak, bagaimana, Mbak?” tanya Darmawan sedikit khawatir.
“Deva tidak akan menolak,” jawab Kemala dengan yakin. “Deva sudah janji sama saya kalau dia akan menikah dengan perempuan mana pun yang saya pilihkan untuk dia. Berhubung saya harus tinggal di Amerika untuk berobat, saya belum punya kesempatan mencari perempuan untuk Deva. Karena kamu punya dua anak perempuan dan saya sudah mengenal kamu dari lama, saya pikir lebih baik saya meminta salah satu dari kedua anak perempuanmu untuk menikah dengan Deva. Saya yakin mereka adalah calon istri yang baik untuk cucu saya yang satu itu.”
Darmawan terlihat ragu, tapi kemudian dia mengangguk. “Baik, Mbak. Saya akan bicarakan dengan kedua putri saya. Salah satu dari mereka akan saya bawa saat menemui Deva nanti.”
“Oke, Darmawan. Saya tutup teleponnya, ya. Saya harus berangkat check-up ke rumah sakit, “ info Kemala. “Setelah ini asisten dan pengacara saya di Jakarta akan menemui kamu untuk membahas soal perjanjian bisnis kita.”
“Baik, Mbak. Terima kasih banyak sebelumnya.”
Sebelum menutup telepon, Kemala menambahkan, “Untuk urusan acara pernikahan juga saya percayakan ke kamu ya, Darmawan. Kamu tahu sendiri kan, Deva sudah tidak punya orangtua maupun saudara yang bisa dimintai bantuan. Walaupun saya punya banyak karyawan, saya tidak mau melibatkan mereka dalam urusan keluarga seperti ini. Jadi saya minta bantuan kamu untuk mengurus semuanya, ya.”
“Baik, Mbak. Sekali lagi terima kasih banyak,” ucap Darmawan. “Lekas sembuh, Mbak.”
Darmawan menutup teleponnya, tapi dia belum bisa bernapas lega. Karena, setelah masalah bisnisnya bisa teratasi, ada satu masalah lagi yang harus dia selesaikan: membujuk Gia dan Feya untuk menikah dengan Deva.
***
“Papi yang bener aja dong! Masa tiba-tiba kita nikah sama laki-laki yang nggak kita kenal? Ini udah tahun berapa, Pi? Udah nggak jaman perjodohan kayak gini!” protes Feya saat Darmawan mengajaknya dan Gia bicara serius di meja makan.
“Dia bukan orang asing, Fey. Papi rasa hampir setengah perempuan di Jakarta ini kenal sama Radeva Adhikara,” ujar Darmawan sambil mengaduk cangkir kopinya.
“Kak Gia memangnya kenal sama si Deva itu?” Feya menatap Gia yang duduk di seberangnya.
“Nggak kenal sih, tapi aku sering lihat berita tentang dia di media sosial,” jawab Gia. “Pas naik kendaraan umum juga aku sering banget dengar banyak perempuan ngomongin Deva.”
“Ya kalo gitu aku masuk ke setengah perempuan Jakarta yang nggak kenal dia,” seru Feya dengan ketus. “Pokoknya, aku nggak mau nikah sama si Deva itu. Kak Gia aja sana. Kak Gia kan lebih tua dari aku. Sudah pantas untuk menikah.”
“Aku sudah mau tunangan, Fey,” kata Gia mengingatkan. “Mana mungkin orang yang sudah mau tunangan menikah dengan orang lain?”
“Baru ‘mau tunangan’ kan? Belum ‘sudah tunangan’? Lagipula, Nick jauh di New York sana. Kak Gia bisa dengan mudah putusin dia. Aku yakin dia bisa terima. I mean, anything could happen when you’re having a long distance relationship, no?”
“Kamu menginginkan hubungan aku sama Nick bubar ya, Fey?”
Darmawan menatap kedua anak perempuannya yang berdebat sambil menahan senyum. Kedua putrinya itu terlihat sama, sekaligus begitu berbeda. Secara fisik, mereka memiliki postur tubuh yang hampir sama dan wajah yang sekilas mirip sehingga tidak jarang orang menganggap mereka kembar. Padahal usia mereka terpaut 2 tahun. Namun, secara karakter, Gia lebih feminin dan lebih dewasa dibandingkan Feya yang masih manja seperti anak kecil.
“Biar Papi yang putuskan,” ucap Darmawan menghentikan perdebatan kedua putrinya. Lalu dia menatap serius ke arah Feya. “Feya, kamu yang akan tunangan dengan Deva karena Gia sudah berkomitmen dengan Nick. Jadi, kamu harus terima keputusan Papi, atau Papi akan ambil semua kartu kredit kamu.”
“Papiiii! Papi kok jahat banget sih sama Fey?!”
Darmawan tidak menghiraukan rengekan putri bungsunya. Dia malah pergi meninggalkan meja makan sambil membawa cangkir kopinya.
“Kakkkk…” Feya beralih ke Gia yang masih duduk di seberangnya. “Tolongin Fey dong, Kak. Aku masih 22 tahun. Baru lulus kuliah. Belum siap nikah. Pacaran aja baru dua kali seumur hidup!”
“Fey…” Gia menatap Feya dengan perasaan bersalah. “Aku sebenarnya juga nggak mau melihat kamu menikah sama orang yang nggak kamu kenal, tapi kita nggak punya pilihan. Papi perlu bantuan untuk menyelamatkan perusahaannya. Menikahkan kamu dengan Deva adalah syarat yang harus Papi lakukan atau dia nggak akan mendapatkan bantuan dari Bu Kemala. Apa kamu nggak kasihan melihat ratusan karyawan Papi di-PHK?”
Feya terdiam cukup lama setelah mendengar kata-kata Gia. Sampai akhirnya dia mengembuskan napas panjang dan bilang, “Oke deh… Aku mau nikah demi menyelamatkan perusahaan Papi…”
Gia tersenyum haru melihat adik manjanya itu akhirnya bersikap dewasa. Gia lalu menghampiri Feya dan memeluknya erat. Gia tidak tahu, kalau di hari pernikahannya nanti, Feya akan melarikan diri.
***
Para tamu undangan yang menghadiri pernikahan Deva dan Feya mulai bergerak dari area ijab kabul menuju area resepsi. Penghulu sudah meninggalkan mejanya, tapi Deva dan Gia masih berada di tempat duduk mereka.
“Kamu Gia, kan?” bisik Deva dengan nada dingin. “Kenapa kamu yang ada di sini?”
Sebelum tatapan Deva sempat beralih ke Darmawan yang juga masih duduk di depannya, Gia menggenggam tangan Deva.
“Ayo kita ke pelaminan,” ucap Gia sambil tersenyum menahan gugup. “Kasihan para tamu sudah menunggu.”
Melihat puluhan pasang mata yang menatap ke arahnya, Deva pun terpaksa bangun dari kursinya lalu melangkah bersama Gia ke pelaminan megah yang sudah menanti mereka.
“Bodoh kamu, Gia!” desis Deva pelan di sela riuh tepuk tangan para tamu undangan. “Lihat saja. Saya akan buat hidup kamu menderita!”
***